Monday, August 19, 2013

Rahasia Kekuatan Masjid

Seperti yang kita ketahui, banyak masjid yang tetap berdiri ketika bangunan disekitarnya hancur terkena bencana. Banyak orang yang percaya ini adalah keajaiban atau kuasa Allah.
Tetapi apakah ada mesjid yang terbuat hanya dari bilik kayu yang tetap berdiri setelah terjadi bencana? Jika ada maka itulah yang disebut keajaiban sebenarnya.

Inilah rahasia kenapa mesjid dapat tetap berdiri ditengah bencana.

Letak yang strategis.
Letak masjid bisa menjadi salah satu penyebab bertahannya masjid tersebut. Biasanya masjid berada pada daratan yang lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya. Adapun juga masjid diletakan ditengah pemukiman. Hal ini menyebabkan masjid menjadi lebih terlindungi oleh bangunan yang lain.

Struktur bangun masjid.
Jika kita lihat, masjid yang bertahan dari bencana adalah masjid yang besar. Tentu saja untuk membuat masjid yang besar diperlukan bahan yang bagus juga. Pembangunan masjid tidak seperti pembangunan pemukiman biasa. Masjid tersebut dibangun bukan untuk penggunaan sementara, tetapi untuk penggunaan jangka panjang. Apalagi jika masjid tersebut termasuk masjid yang megah, tentu saja dibangun dengan struktur dan bahan yang bagus juga.
Bahan dan struktur yang bagus akan meningkatkan kekuatan bangunan masjid tersebut. Apalagi jika masjid tersebut mempunyai tembok pagar yang mengelilinginya, tentu akan menambah kekuatan masjid tersebut dari serangan bencana.

Ruangan kosong.
Masjid merupakan sebuah ruangan kosong yang besar. Walaupun ada seseorang yang meletakan bom di dalam masjid, itu sama saja meledakan ruangan kosong. Apakah yang terjadi jika meledakan sebuah ruangan kosong? Yang terjadi adalah kerusakan pada ruangan kosong tersebut (tidak ada yang rusak, karena hanya ruang kosong).

Bukan target vital perang.
Masjid yang sekali lagi merupakan ruangan kosong, bukanlah target vital perang. Hal ini tentu mengurangi serangan ke masjid. Bahkan jika ingin membunuh ratusan orang ketika mereka sedang shalat, tidak diperlukan serangan yang besar. Cukup bom berdaya ledak sedang saja sudah cukup untuk membunuh orang di dalam masjid tanpa merusak bangunan tersebut. Ingat target perang adalah membunuh bukan merusak bangunan. Bahkan ada bom yang hanya membunuh makhluk hidup tetapi tidak merusak bangunan.

Sunday, August 18, 2013

Kematian Muhammad

Banyak versi yang menceritakan seputar kematian Rasulullah ini. Versi pertama, yaitu yang diakui kebanyakan pakar Islam adalah ia mati akibat diracun oleh wanita Yahudi di Khaibar. Versi kedua adalah ia wafat akibat penyakit yang dideritanya. Berdasarkan gambaran keadaan tubuh sebelum kematiannya diperkirakan ia mengalami radang paru2, pengkritik lain menyebutkan penyakit itu adalah syphilis akut (penyakit kelamin). Versi ketiga, yang beredar dikalangan Muslim Syiah, diceritakan bahwa nabi meninggal karena diracun oleh istri2nya sendiri, yaitu Aisha dan Hafsa, yang tidak tahan terhadap kebejatan Muhammad. Kisah ini diceritakan pada buku Tafsirul Iyasy, karya Muhammad bin Mahmud bin Iyasy v1, p 200.



KARENA VERSI PERTAMA ADALAH VERSI YANG PALING DAPAT DITERIMA KAUM MUSLIM, OLEH KARENA ITU KITA HANYA AKAN MEMBAHAS VERSI PERTAMA INI.

Muhammad meninggal di tahun 632 M, pada umur 62 tahun. Kematiannya diakibatkan karena pengaruh racun yang dimakannya di Khaybar 3 tahun sebelumnya, jadi selama 3 tahun Muhammad berkutat dengan racunnya tersebut, berjuang mati2an agar dapat lepas dari pengaruh racun yang menggerogoti tubuhnya.

Khaybar adalah sebuah daerah yang ditempati oleh masyarakat Yahudi. Dua bulan sebelum penyerangannya di Khaybar, Muhammad bersama 1500 pengikutnya yang taat berangkat untuk melakukan Umrah (ibadah haji minor) di Mekah. Akan tetapi karena merasa takut para muslim melakukan kekacauan, pihak Mekah tidak memperkenankan Muhammad dan pengikutnya untuk masuk kota dan memaksa mereka berkemah di tempat yang bernama Hudaibiya tak jauh dari Mekah. Ketika di sana, akhirnya Muhammad membuat perjanjian bersama kaum Quraish untuk berdamai selama 10 tahun dan kaum Quraish akan mengijinkan Muhammad masuk Mekah mulai tahun berikutnya untuk melaksanakan ibadah Haji dengan para pengikutnya. Perjanjian ini kemudian disebut dengan perjanjian Hudaibiya.

Setelah menandatangani perjanjian ini, Muhammad dan pengikutnya meninggalkan Mekah. Para muslim rupanya tidak senang dengan perjanjian tersebut, mereka menilai perjanjian itu sangat menguntungkan pihak Quraish. Apalagi dengan perjanjian itu, kaum Jihadis menjadi kehilangan kesempatan untuk merampoki orang2 Mekah. Muhammad sadar bahwa dia harus terus menerus menghadiahi para Jihadisnya dengan barang2 rampokan, karena jika tidak meraka akan kehilangan iman terhadap dia. Saat itu terjadi kemarau hebat di Medina. Lalu di perjalanan pulang ke Medina itu, dia memutuskan untuk melakukan serangan mendadak terhadap kaum Yahudi. Karena semua kaum Yahudi di sekitar Medina telah dirampoki dan dimusnahkan, satu2nya yang tersisa hanyalah mereka yang tinggal di Khaybar.

Untuk meyakinkan dan menyenangkan pengikutnya atas perampokan ini, Muhammad menurunkan Sura al-Fath (Kemenangan, Sura 48). Di sura ini ALLAH MENJANJIKAN BARANG2 HASIL PERAMPOKAN BAGI PARA MUSLIM YANG BERGABUNG DALAM JIHAD.

Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. (QS 48:20)

Sekitar 6 minggu kemudian Muhammad memimpin tentaranya dan menyerang masyarakat Yahudi Khaybar. Akhirnya masyarakat Khaybar menyerah, Muhammad memerintahkan para lelaki agar diikat tangan mereka, sementara para wanita dan anak2 disekap secara terpisah. Melihat ini, suku Al-Aus memohon agar nabi memperlakukan mereka dengan ringan. Muhammad mengusulkan agar Sa‘d bin Mu‘adh, diberi tugas untuk menentukan hukuman dan mereka setuju.

Sad bin Mu‘adh kemudian berkata; “Saya putuskan bahwa para laki2 mereka harus dibunuh dan anak2 serta kaum wanitanya harus diambil jadi tawanan”. Sahut Muhammad, “Hebat Sad! Engkau telah menjatuhkan putusan untuk mereka dengan putusan (menyerupai) keputusan Allah”. (Sahih Bukhari 52:280)

Ahhirnya Sekitar 600-800 lelaki Yahudi dipenggal disana. Segera setelah Khaybar ditaklukkan, seorang wanita Yahudi mempersiapkan makan malam untuk Muhammad dan kroninya. Tanpa diketahui para Muslim, wanita ini telah menaburi racun di daging domba yang disajikan untuk makan malam. Muhammad memakan sebagian daging itu dan mati karenanya tiga tahun kemudian.

MARI KITA LIHAT BEBERAPA KISAH YANG MENCERITAKAN HAL PERACUNAN MUHAMMAD INI:
Ibnu Sa'ad, "Kitab al-Tabaqat al-Kabir" v2. p.249: Rasul Allah dan sahabat2nya makan daging itu. Daging (kambing) itu berkata: “Aku diracuni.” Dia (Muhammad) berkata kepada para sahabatnya, “Tahan tanganmu! Karena daging ini telah mengatakan padaku bahwa dirinya diracuni!” Mereka lalu membuang daging2 itu dari tangannya, tapi Bishr Ibn al-Bara mati. Rasulullah meminta dia (wanita Yahudi) dihadapkan kepadanya dan dia bertanya padanya,”Apa yang membuatmu melakukan hal itu?” Dia menjawab, “Aku ingin tahu apakah kau benar2 seorang nabi, yang jika memang benar maka racun ini tidak akan mengganggumu, dan jika kau ternyata seorang nabi, maka aku akan dapat membebaskan masyarakat dari dirimu. Muhammad mengeluarkan peritah dan dia pun dihukum mati

Ibnu Sa'ad, p.251, 252: …. Rasulullah menyuruh memanggil Zaynab dan berkata padanya, “Apa yang membuatmu melakukan apa yang kau telah lakukan?” Dia menjawab, “Kau telah lakukan pada masyarakatku apa yang telah kau lakukan. Kau telah membunuh ayahku, pamanku, suamiku, aku berkata pada diriku sendiri, ‘Jika kau adalah seorang nabi, kaki depan itu akan memberitahumu, dan yang telah berkata, ‘Jika kau seorang raja, kami akan mengenyahkanmu.’” ..Rasul Allah hidup sampai tiga tahu setelah itu sampai racun itu menyebabkan rasa sakit sehingga ia wafat. Selama sakitnya dia biasa berkata, “Aku tidak pernah berhenti mengamati akibat dari daging (beracun) yang kumakan di Khaibar dan aku menderita beberapa kali (dari akibat racun itu) tapi sekarang kurasa tiba saatnya batang nadiku terputus.”

Sahih Bukhari 53:394; Dikisahkan oleh Abu Huraira: …, Dia bertanya,”Apakah kau telah meracuni sup domba ini?” Mereka menjawab,”Ya.” Dia bertanya,”Mengapa kau lakukan itu?” Mereka menjawab, “Kami ingin tahu jika kau ini pembohong dan kalau kau memang pembohong, kami akan menyingkirkanmu, dan jika kau memang adalah seorang nabi, maka racun itu tidak akan mempan pada dirimu.”

Tabari v 8, p.123, 124: Ketika Rasul Allah beristirahat dari pekerjaannya, Zaynab binti. al-Harith, istri dari Sallam bin. Mishkam, menyajikan baginya sebuah daging domba bakar. Dia telah bertanya sebelumnya bagian domba manakah yang paling disukai Rasul Allah dan diberitahu bagian kaki depannya. Lalu dia membubuhi bagian itu dengan racun, dan dia juga meracuni bagian lainnya. Setelah itu dia menghidangkan daging itu. Ketika daging itu disajikan di hadapan Rasul Allah, dia mengambil bagian kaki depannya dan mengunyah sebagian kecil, tapi tidak ditelannya. Di sebelah dia terdapat Bishr bin al-Bara bin Marur yang seperti Rasulullah juga mengambil bagian daging itu. Akan tetapi Bishr menelan daging itu ketika sang Rasul Allah memuntahkan daging dan berkata, “Tulang ini memberitahu diriku bahwa ia diracuni.” Dia bertanya, “Apa yang membuatmu melakukan ini?” Wanita itu menjawab, “Bagaimana kau telah memperlakukan masyarakatku sudah nyata di hadapanmu. Jadi aku berkata, “Jika dia memang benar2 nabi, maka dia akan diberitahu; tapi jika dia seorang raja, maka aku akan dapat menyingkirkannya.””. Sang Nabi mengampuninya. Bishr mati karena daging yang dimakannya.

KEADAAN MUHAMMAD MENJELANG KEMATIANNYA

Sahih Bukhari 59:713: …,Dikisahkan oleh Aisha: Sang Nabi dalam penderitaan sakitnya yang mengakibatkannya mati, biasa berkata, “Wahai ‘Aisha! Aku merasa sakit karena daging yang kumakan di Khaybar, dan saat ini, aku merasakan urat nadiku bagaikan dipotong oleh racun itu.”

Ibnu Sa'ad, p.263, Sesungguhnya selama dia sakit, sang Nabi melafalkan "al-Mu'awwadhatayn" (Sura 113, dan 114), dan meniupkan udara ke atas tubuhnya sambil menggosok-gosok wajahnya. (Ini adalah usaha untuk sembuh).

Ibnu Sa'ad, p.265; Rasulullah jatuh sakit dan dia yakni Jibril, berdoa baginya sambil berkata, “Dalam nama Allah aku berdoa untuk mengusir semua yang melukaimu dan menangkal semua yang dengki padamu dan dari semua mata yang jahat dan Allah akan menyembuhkanmu.”

Ibnu Sa'ad, p.322; Sesungguhnya, ketika Rasulullah merasa sakit, dia meminta kesembuhan dari Allah. Tapi atas sakitnya yang menyebabkan dirinya mati, dia tidak berdoa untuk minta kesembuhan; dia biasa berkata, “Wahai jiwa! Apa yang terjadi atas dirimu sehingga kau mencari berlindung di setiap tempat perlindungan?”

PERISTIWA KEMATIAN MUHAMMAD

Ibnu Sa'ad p.322: Ketika saat terakhir sang Nabi semakin menderita, dia biasa menarik selimut menutupi mukanya; tapi ketika dia merasa tak nyaman, dia menyingkirkannya dari wajahnya dan berkata, “Kutukan Allah bagi orang2 Yahudi dan Kristen yang membuat kuburan2 para nabi mereka sebagai tempat keramat.”

Ibnu Hisham, Sirah NA p.679: Lalu penyakit sang Nabi bertambah buruk dan dia menderita sakit hebat. Dia berkata, “Siramkan air tujuh kantung kulit dari sumur2 yang berbeda ke atas tubuhku sehingga aku bisa ke luar bertemu orang2ku dan memerintahkan mereka.” Kami membantunya duduk di sebuah baskom tempat mandi milik Hafsa d. Umar dan kami menyiramkan air ke atasnya sampai dia menjerit,”Cukup, cukup!” …Lalu beberapa istrinya mengelilinginya … ketika pamannya Abbas ada bersamanya, dan mereka setuju untuk memaksanya minum obat. Abbas berkata, “Biar kupaksa dia,” tapi merekalah yang kemudian melakukannya. Ketika dia sembuh dia bertanya siapa yang memperlakukan dirinya seperti itu. Ketika para istrinya berkata padanya itu adalah perbuatan pamannya, dia berkata, “Ini adalah obat2an yang dibeli para wanita dari negara sana,” dan dia menunjuk arah Abyssinia [Ethiopia]. Ketika dia bertanya pada para istrinya mengapa mereka melakukan hal itu, pamannya menjawab, “Kami khawatir kau akan menderita pleurisy” Muhammad menjawab, “Itu adalah penyakit yang tidak akan diberikan Allah padaku. Tidak ada seorang pun yang berkunjung ke rumah ini sampai mereka dipaksa makan obat ini, kecuali pamanku.” Maymuna [salah seorang istri Muhammad] dipaksa untuk makan obat itu meskipun dia sedang puasa karena sumpah sang Rasul sebagai hukuman atas apa yang mereka perbuat padanya.

Ibnu Sa'ad, p.680; Umm Bishr datang kepada sang Nabi waktu Nabi sedang menderita sakit dan berkata, “O Rasul Allah! Aku tidak pernah melihat demam seperti ini.” Sang Nabi berkata padanya, ”Jika cobaan kita dua kali lipat beratnya, maka anugrah kita di surga pun jadi dua kali lipat pula. Apa yang orang2 katakan tentang penyakitku?” Dia (Umm Bishr) berkata, ”Mereka bilang itu pleurisy.” Karena itu sang Rasul berkata, “Allah tidak akan membuat RasulNya menderita seperti itu (pleurisy) karena itu tanda kemasukan Setan, tapi (rasa sakitku adalah akibat) daging yang kumakan bersama-sama dengan anak lakimu. Racun itu telah memotong urat nadiku.”

Ibnu Hisham p.682; …. bahwa dia mendengar Aisha berkata: “Sang Rasul mati di pelukanku saat giliranku (malam jatahnya ia dan Muhammad). Aku tidak berbuat kesalahan apapun terhadap orang lain. Adalah karena ketidaktahuanku dan usia mudaku sehingga Rasul Allah mati di pelukanku.

DARI KISAH KEMATIANNYA INI KITA DAPAT MEMBUKTIKAN BAHWA MUHAMMAD BUKANLAH NABI UTUSAN TUHAN.

Tujuan wanita Yahudi meracun Muhammad adalah untuk membuktikan apakah Muhammad benar2 seorang nabi, ataukah hanya seorang pembohong. Allah rupanya terlambat memberi peringatan kepada Muhammad, sehingga ia terlanjur memakan sedikit dari racun tersebut. Ia merasakan ada hal yang aneh pada rasa daging yang ia makan, kemudian ia berkata bahwa daging itu berbicara padanya (???). Setelah itu ia berusaha mati2an untuk sembuh dari pengaruh racun tersebut, mencari pengobatan kesana kemari. Bahkan ia bersama Jibril berdoa untuk meminta kesembuhan dari Allah. Namun pada akhirnya Muhammad wafat karena kutukan yang ia ucapkan sendiri;

Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya, Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. (QS 69:44-47)

Sungguh cara mati yang indah bagi seorang pria berumur 62 tahun, yang mengaku sebagai NABI TERAKHIR. Mati dipangkuan seorang Aisha, istri muda berusia 18 tahun. Dengarkan apa yang diucapkan Muhammad menjelang kematiannya;

Ya Allah! Ampunilah saya! Kasihanilah saya dan hubungkanlah saya dengan Teman Yang Maha Tinggi …(Sahih Bukhari 59:715)

SIAPAKAH TEMAN YANG MAHA TINGGI ? YANG PASTI BUKAN ALLAH ! BIARLAH IMAN ANDA YANG MENJAWABNYA !

Thursday, August 15, 2013

Konspirasi dalam Islam

Jika dahulu konspirasi hanya ditulis pada Kristen, kini teori konspirasi telah terungkap dalam Islam.
Berikut beberapa konspirasi yang terjadi.

Sajadah


Menara Kembar

Menara atau bangunan seperti tiang tinggi biasa digunakan untuk mengalirkan energi.
Dan harus diakui, kabbah memiliki energi yang sangat besar karena setiap hari banyak manusia yang mengalirkan energi.

Mata Horus


The Twenty-Sixth Name is ENBILULUGUGAL
The Power that presides over all growth, and all that grows. Gives knowledge of
cultivation, and can supply a starving city with food for thirteen moons in one moon. A
most noble Power. His Word is AGGHA and his Seal:


The Lord of Abominations is HUMWAWA of the South Winds, whose face is a mass of
the entrails of the animals and men. His breath is the stench of dung, and has been.
HUMWAWA is the Dark Angel of all that is excreted, and of all that sours. And as all
things come to the time when they will decay, so also HUMWAWA is the Lord of the
Future of all that goes upon the earth, and any man’s future years may be seen by gazing
into the very face of this Angel, taking care not to breathe the horrid perfume that is the
odour of death..
And this is the Signature of HUMWAWA.

Friday, August 2, 2013

Jalan ke Syurga

Agama dengan syariat-syariatnya harus ditaati dan dilaksanakan sepanjang
umur hidup manusia. Manusia juga diharuskan untuk selalunya bermurah hati.
Hanya apabila manusia dapat menjalankan segala hal-hal tersebut dengan
penuh maka manusia dapat mencapai Syurga. Mungkinkah kita hidup
kehidupan kita dengan sempurna ?

Berapa tekunkah kita sepatutnya menjalankan syariat-syariat agama ataupun
berapa banyakkah kita berkemurahan hati agar dapat masuk ke Syurga? Kita
semua telah berdosa; bahkan perbuatan kami yang terbaik pun kotor dan najis.
Kerana dosa kami, kami akan lenyap seperti daun layu diterbangkan angin.
Adakah tolok ukur yang pasti apabila menjalankan hal-hal tersebut agar kita dapat masuk Syurga? Tidak ada!
Oleh karena manusia tidak mendapatkan kepastian masuk ke Syurga maka banyak orang tinggal dalam keragu-raguan, dengan kebimbangan dan kegelisahan. Sepanjang zaman orang selalu berdoa kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang harus diikuti manusia agar dapat mencapai Syurga.
Kita semua seperti domba yang sesat, masing-masing mengikut jalan sendiri.
Tetapi Allah menjatuhkan hukuman kepadanya, hukuman yang seharusnya
dijatuhkan kepada kita.

"Indinash shiraathal mustaqiim" Tunjukilah kami jalan yang lurus...(Al Fatihah, 1:6)

"Yaa ayyuhai ladziina aamanut taqullaaha wabtaghuu ilaihi wasiilata ..." Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya... (Al Maid
ah, 5:35)

Sudahkah anda menemui jalan itu ?

Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang
Oleh kerana Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang maka Allah di dalam Al Quran telah menunjukkan jalan dan petunjuk-petunjuk yang diberi jelas patut diikuti agar manusia dapat mencapai Syurga. Marilah kita renungkan Al Quran dan Hadis seperti yang tersebut dibawah ini.

Petunjuk-petunjuk Al Quran dan Hadis agar manusia dapat mencapai Syurga

1. Isa AS ialah jalan yang lurus yang patut diikuti :

"Wa innahu la'ilmu lis saa'ati fa laa tamtarunna bihaa wa tabi'unni haadzaa
shiraathum mustaqiim..."
Dan sesungguhnya Isa itu benar memberikan pengetahuan tentang
hari kiamat kerana itu janganlah kamu ragu tentang hari kiamat itu
dan ikutlah Aku. Inilah jalan yang lurus ...
(Az Zukhruf, 43:61).

2. Isa AS pembawa keterangan dan patut ditaati :

"Wa lammaa jaa-a 'Isa bil bayyinaati qaala qad ji'tukum bil hikmati wa
li ubayina lakum ba'dhal ladzii tathtalifuuna fiihi fat taqullaaha wa
athii'u..."
Dan tatkala Isa datang membawa keterangan. Dia berkata sesungguhnya Aku datang membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian yang apa kamu perselisihkan tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaKu...
(Az Zukhruf, 43:63)

3. Isa AS mengatakan perkataan yang benar :

"Dzaalika 'isabnu Maryama qaulal haqqil ladzil fiihi yamtaruum..."
Itulah Isa putra Maryam yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenaranNya...
(Maryam, 19:34)

4. Isa AS itu utusan Allah dan FirmanNya :

"Inamal Masihu 'isabnu Maryama rasullahi wa kalimatuhu ..."
Sesungguhnya Isa Al Masih putra Maryam itu utusan Allah dan FirmanNya...
(An Nisa, 4:171)

5. Isa AS adalah Roh Allah dan KalimatNya :

"Isa faa innahu Rohullah wa kalimatuhu..."
Isa itu sesungguhNya Roh Allah dan FirmanNya
(Hadis Anas bin Malik hal.72)

6. Isa AS adalah Roh Allah yang menjelma menjadi Manusia yang sempurna :

"... arsalnaa ilaihaa ruuhanaa fa tamatstsala lahaa basyaran sawiyya."
...Kami mengutus Roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya menjadi Manusia
yang sempurna...
(Maryam, 19:17)

7. Isa AS adalah satu-satunya Imam MAHDI
"Laa mahdia illa isabnu Maryama..."
Tidak ada Imam MAHDI selain Isa putra Maryam...
(Hadis Ibnu Majah)

8. Isa AS dilahirkan bukan dari bapa Insani, tetapi dari Roh Allah :

"Wallatii ahshanat farjahaa fa nafakhnaa fiihaa mir ruuhinaa Waja'alnaahaa wabnahaa ayatal lil 'aalamiin"
Ingatlah kisah seorang perempuan yang memelihara kehormatannya (Maryam) lalu Kami tiupkan kepadanya Roh Kami (Roh Allah) dan Kami jadikan dia dan Anaknya tanda (kuasa Allah) bagi semesta alam.
(Al Anbiyaa, 21:91)

9. Isa AS lahir, mati dan dihidupkan kembali :

"Wa salaamu 'alayya yauma wulittu, wa yauma amuutu, wa yauma
ub'atsu hayaa."
Dan sejahtera atasNya pada hari Dia dilahirkan, pada hari Dia
wafat, dan pada hari Dia dibangkitkan hidup kembali."
(Maryam, 19:33)

10. Isa AS mati, diangkat dan pengikutNya dipilih atas orang kafir :

"Idz qaalallahu yaa Isa, innii mutawafiika, wa raafi'uka ilayya, wa
muthahhiruka minal ladzinaa kafaruu, wa jaa'ilul ladzina tabauka fauqal
ladzina kafaruu ilaa yaumil qiyamati."
Ingatlah tatkala Allah berfirman; Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanMu, dan mengangkatMu depadaKu, dan akan menyucikan Engkau dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutiMu diatas mereka yang kafir hingga hari kiamat."
(Al Imran, 3:55)

11. Isa AS menyembuhkan orang buta sejak lahir :

"Wa ubriul akmaha, wal abrasha, wa uhyil mautaa bi idznillah."
Dan Aku menyembuhkan orang buta sejak dari lahirnya dan
orang yang berpenyakit sopak, dan Aku sanggup
menghidupkan orang mati dengan seizin Allah.
(Al Imran, 3:49).

12. Isa As menghidupkan orang mati :

"... wa idz tuhuriijul mautaa biidzni..."
... dan diwaktu Kamu mengeluarkan orang mati dari kubur
(menjadi hidup) dengan izin Ku...
(Al-Maidah, 5:110)

13. Isa AS diberi mujizat dan Roh Kudus :

"Wa aatainaa 'isabna Maryam bayyinaati wa ayyadnaahu bi ruuhil
qudusi."
Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam, beberapa mujizat
serta Kami perkuat Dia dengan Roh Kudus.
(Al Baqarah, 2:253)

14. Kafirlah orang yang menolak Isa AS

"Wa bi kufrihim wa qaulihim 'alaa Maryama buhtaanan 'azhiimaa."
Dan kerana kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan
mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zinah).
(An Nisa, 4:156)

15. Isa AS akan diimani oleh semua ahli kitab :

"Wa im min ahlil kitaabi illa la yu'minanna bihi qabla mauthihiiwa
yaumal qiyaamati yakunnu 'alaihim syahiidaa."
Dan tidak seorangpun dari ahli kitab melainkan akan beriman
kepada Isa sebelum matiNya, dan pada hari kiamat. Dia
menjadi Saksi terhadap mereka.
(An Nisa, 4:159)

16. Tidak menurut Taurat dan Injil, maka tidak dipandang beragama :

"Qui yaa ahlal kitaabi lastum 'alaa syai-in hattaa tukimut tauraata wal
injiila wa maa unzila ilaikum mir rabbkum"
Katakanlah: "Hai ahli kitab, kamu tidak dipandang beragama
sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran ajaran Taurat,
Injil dan apa apa yang diturunkan kepadamu
dari Tuhanmu.
(Al Maidah, 5:68)

17. Al Quran induk dari Taurat dan Injil :
"Wa innahu fii ummil kitaabi ladainaa ia 'aliyyuna hakiim."
Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Alkitab, di sisi
Kami adalah tinggi dan penuh hikmat.
(Az Zukhruf, 43:4)

18. Isa AS berkuasa/terkemuka di dunia dan di akhirat :

"Idz qalatil malaikatu yaa Maryama innallaaha yubasyiruki bi kalimatim
minhus muhul masihu 'isabnu Maryama wajihan fiddun-yaa wal akhirati
wa minal muqarrabiin."
Ketika malaikat berkata, hai Maryam sesungguhnya Allah
menggembirakan kamu dengan Kalimah daripadaNya
namannya Al Masih putra Maryam, terkemuka di dunia dan di
akhirat dan orang yang paling dekat pada Allah.
(Al Imran, 3:45)

Hazrat Isa AS yang paling berkuasa dan terkemuka di dunia dan di akhirat.
Hasrat Isa AS adalah petunjuk kepada jalan yang lurus. Pengikut-pengikut
Hazrat Isa AS dipilih atas orang-orang kafir.

Jadi ikutlah Hazrat Isa AS pasti anda akan masuk ke Syurga. Begitu penting Hazrat Isa AS sehingga di dalam AlQuran nama Hazrat Isa AS disebut sebanyak 97 kali.
Jika Yang Terhormat Perdana Menteri menjemput anda ke Istana Negara,
sudah pasti anda percaya bahawa anda akan diberi masuk ke istana. Ini kerana
Yang Terhormat Perdana Menteri adalah yang paling berkuasa di negara dan
berhak bertindak begitu.
Jika jemputan ke Istana ditanda tangan seorang yang berpangkat rendah
sahaja, tentu anda akan meragui kebenaran jemputan itu. Jangan -jangan
menuju ke Istana hanya dilarang masuk apabila tiba disana. Sedemikian,
Hazrat Isa AS diberi hak memerintah atas Syurga. Oleh kerana itu, sudah pasti
bahwa kepercayaan akan jemputan Hazrat Isa AS tidak akan diragui lagi.
Percayalah akan jemputan Hazrat Isa AS dan anda pasti memasuki Syurga.

TEMAN YANG MAHA TINGGI

Doa Nabi Muhammad SAW sebelum beliau wafat:
Ya Allah! Ampunilah saya! Kasihanilah saya dan hubungkanlah saya dengan
Teman Yang Maha Tinggi ...(Hadis Shahih Bukhari 1573)
Lalu beliau mengangkat tangannya sambil mengucapkan:
"Teman Yang Maha Tinggi" Lalu beliau wafat dan rebahlah tangan beliau.
(Hadits Shahih Bukhari 1574)

Siapakah "Teman Yang Maha Tinggi" itu?
Menurut catatan para Hadis Sahih Bukhari, ialah "Malaikat dan Nabi-nabi".
Malaikat tidak disebut yang Maha Tinggi, jadi "teman" beliau bukan malaikat
tetapi seorang nabi. Lalu siapakah diantara nabi yang layak disebut:
"Yang Maha Tinggi"?
Nabi-nabi yang terkenal yaitu:
"Adam Shafiyulah" = Adam AS disucikan Allah
"Nuh Najiyullah" = Nuh AS diselamatkan Allah
"Ibrahim Khalillulah" = Ibrahim AS dikasihi Allah
"Isma'il Dzabiihullah" = Ismail AS dikurbankan Allah
"Musa Kaliimullah" = Musa AS difirmankan Allah
"Dawud Kalifatullah" = Dawud AS dipimpin Allah (Majmu' Syarif)

Namun beliau telah bersabda:
"Anaa aulan naasi bi 'iisabni Maryam fid dun-yaa wal aakhiraati wal anbiyaau ikhwaatul li'allaatin ummahaatuhum syattaa wa diinuhum waahid."

Saya yang lebih dekat Isa anak Maryam di dunia dan di akhirat.
Semua nabi itu bersaudara karena seketurunan. Ibunya berlainan
sedang agamanya satu.
(Hadis Shahih Bukhari 1501)
"...'lisabnu Maryam wajihan fid dun-yaa wal aakhirat..."
... Isa putra Maryam yang ter kemuka di dunia dan di akhirat ...
(Al Imran, 3:45)
"Wal Iadzii nafsii bi layusyikanna ayyanzila fil kumubnu Maryama hakaman
muqsithan"
Demi Allah yang jiwaku di tanganNya, sesungguhnya telah dekat
masanya 'Isa Anak Maryam akan turun di tengah-tengah kamu.
Dia akan menjadi Hakim yang Adil ...
(Hadis Shahih Muslim 127)
"Laa mahdiya illa isabnu Maryama"
Tidak ada Imam MAHDI selain Isa putra maryam
(Hadis Ibnu Majah)
... Isa itu Rohullah, Rasullah dan Kalimatullah.
(Anas bin Malik hal. 72, An Nisa, 4:171)
Maka "Teman Yang Maha Tinggi" itu adalah Isa Al Masih Anak Maryam.
"... wattabi'unni haadzaa shiraathum mustaqiim."
...ikutilah Aku, inilah jalan yang lurus.
(Az Zukruf, 43:61)

Sudahkah anda menerimaNya Sebagai Pembuka/Petunjuk jalan yang
lurus kepada Allah?

Tuesday, July 2, 2013

Mengapa Umat Islam Menghadap Ka'bah Untuk Menyembah Allah

Inilah Jawaban yang Logis,

Percakapan hamba allah dengan seorang prof M.zakir naik kalo ingin tau banyak tentang zakir naik, silahkan cari aja di google atau youtube

hamba allah : mengapa orang Islam menyembah kotak hitam?

M.zakir naik : salah tu bro. Umat Islam ga menyembah kotak hitam, tapi menyembah Allah.

hamba allah : bukankah orang Islam sembahyang menghadap Ka'bah, satu kotak yang berwarna hitam? Apakah Allah itu ada di dalam Ka'bah?

Belum sempat sang M.zakir naik menjawab, terdengar handphone nya hamba allah berbunyi. hamba allah menjawab panggilan teleponnya, sementaran sang M.zakir naik dengan sabar menanti. Setelah hamba allah selesai menjawab panggilan di handphone nya, dia memandang sang M.zakir naik. Sang M.zakir naik tersenyum.

hamba allah : mengapa tersenyum? Apa jawaban dari pertanyaan saya tadi?

M.zakir naik : hmm..perlukah saya menjawab pertanyaanmu?

hamba allah : ah, pasti kau tidak bisa menjawab bukan? [tertawa]

M.zakir naik : bukan itu maksud saya. Tapi saya mencoba menggunakan teori yang kau gunakan untuk membuat pertanyaan yang kau ajukan padaku. Saya melihat kau kurang menyadarinya..

hamba allah : mengapa kau bicara begitu?

M.zakir naik : tadi saya lihat kau bicara sendiri, ketawa dan tersenyum sendiri. Dan kau mencium HP itu sambil bicara "I love u mom"...

hamba allah : saya tidak bicara sendiri. Saya bicara dengan istri saya. Dia yang telfon saya tadi.

M.zakir naik : mana istrimu? Saya tak melihatnya..

hamba allah : istri saya di Tuban. Dia telfon saya, saya jawab menggunakan telfon. Apa masalahnya? [nada marah]

M.zakir naik : boleh saya lihat HP kamu?

hamba allah mengulurkan HPnya kepada sang M.zakir naik.
Sang M.zakir naik menerimanya, lalu membolak-balikan HP itu,
menggoncang-goncangnya,
mengetuk-ngetukHP tersebut ke meja.

Lantas sang M.zakir naik menghempaskannya sekuat tenaga ke lantai.. PRAKKK..PECAH..Muka hamba allah merah menahan marah. Sementara sang M.zakir naik menatapnya sambil tersenyum..

M.zakir naik : mana istrimu? Saya lihat dia tidak ada disini. Saya pecahkan HP ini pun istrimu tetap tak terlihat di dalamnya?

hamba allah : mengapa kau bodoh sekali? Teknologi sudah maju. Kita bisa berbicara jarak jauh menggunakan telfon.

Apa kau tak bisa menggunakan otakmu? [jegerrr marahnya bro]

M.zakir naik : Alhamdulillah [senyum]. Begitu juga halnya dengan Allah SWT.
Umat Islam sembahyang menghadap Ka'bah bukan berarti umat Islam menyembah Ka'bah.

Tetapi umat Islam sembahyang atas arahan Allah. Allah mengarahkan umat Islam untuk sembahyang menghadap Ka'bah juga bukan berarti Allah ada di dalam Ka'bah.

Begitu juga dengan dirimu dan istrimu.
Istrimu menelfon menggunakan HP,
ini bukan berarti istrimu ada di dalam HP.

Tetapi ketentuan telekomunikasi menetapkan peraturan, kalau ingin bicara lewat telfon harus tekan nomor yang tepat, barulah akan tersambung dan kau bisa berbicara melalu HP meski istrimu tak ada di dalamnya.

hamba allah : Kalau begitu, tidak masalah jika Ka'bah dihancurkan? Karena Ka'bah hanya ciptaan manusia, dan sudah beberapa kali dihancurkan. Berarti juga tidak harus menghadap Ka'bah, karena fungsinya sama seperti telfon, tidak harus menggunakan telfon yang sama, yang penting tujuannya benar.

7-2-2013 8-16-52 PM

Monday, December 3, 2012

Tujuan diutusnya para nabi

Tuhan maha suci dari melakukan perbuatan yang sia-sia tanpa tujuan. Pengutusan para nabi adalah salah satu bentuk rahmat Allah yang memiliki tujuan-tujuan penting. Di antara tujuan-tujuan tersebut adalah:

1. Hidayah Tasyri’i[1] Umat Manusia


Masalah kenabian telah terpapar sejak awal penciptaan dan memang pada dasarnya kehidupan umat manusia di dunia ini terbangun di atas hidayah tasyri’i. Ayat-ayat Al-Quran menggambarkan bahwa seakan-akan sejak diturunkannya nabi Adam AS. ke dunia, diturunkan wahyu kepadanya agar mengikuti setiap petunjuk yang akan diturunkan nanti. Jika engkau menerima petunjuk itu dan mengamalkannya, engkau pasti akan mencapai kebahagiaanmu, dan jika kamu menentangnya, kamu bakal celaka:

Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah [2] : 38-39)

Atas dasar itu, sejak awal nabi Adam AS. tinggal di muka bumi perkaranya sangatlah jelas, bahwa di hadapannya akan terdapat dua jalan dan Tuhan akan membimbingnya. Ayat berikutnya menjadikan semua keturunan nabi Adam AS. sebagai lawan bicaranya; Ia berfirman:

Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-A’raaf [7] : 35-36)

2. Menyempurnakan Hujjah


Salah satu hasil dari hidayah tasyri’i, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, adalah penyempurnaan hujjah. Penyempurnaan hujjah adalah tujuan kedua diutusnya para nabi. Dalam Al-Quran disebutkan dengan jelas:

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisaa’ [4] : 165)

Di ayat lainnya, dengan menjadikan para Ahli Kitab sebagai lawan bicaranya, Allah SWT. berfirman:

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Maa’idah [5] : 19)

Yang jelas Ahli Kitab menganggap diri mereka sebagai pengikut seorang nabi, hanya saja mereka menanti kedatangan nabi selain nabi Muhammad SAW.

Bagaimanapun juga, ayat di atas menjelaskan bahwa para nabi diutus supaya jangan sampai para pengingkar bisa mencari-cari alasan seperti “karena seorang nabi tidak diutus kepada kami, dan karena ajaran nabi-nabi terdahulu telah terselewengkan, sesatlah kami” atau “karena sebelumnya telah dijanjikan tentang kedatangan seorang nabi namun ia tidak datang, oleh karenanya kami menjadi ragu dan berdua-hati.”

Allah SWT. berfirman:

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?” (QS. Thaahaa [20] : 134)

Ayat tersebut menerangkan bahwa jika seandainya Allah SWT. menurunkan azab siksaan kepada umat manusia sebelum diturunkan seorang nabi untuk mengingatkan mereka, bisa jadi mereka berdalih bahwa mereka tidak tahu mana jalan yang benar dan Tuhan sendiri tidak menurunkan seorang pembimbing kepada mereka agar menunjukkan jalan yang benar serta mengeluarkan mereka dari lingkaran kelalaian. Jadi, salah satu tujuan pengutusan para nabi, adalah menutup kemungkinan bagi manusia untuk mencari-cari alasan.

3. Meluruskan Pelencengan


Ada beberapa ayat yang dapat kita petik suatu pesan darinya, namun mungkin saja itu tidak mutlak. Misalnya, Al-Qur’an mengisyarahkan penyelewengan-penyelewengan (perubahan dalam kitab suci) yang dilakukan oleh biarawan Ahli Kitab:

Mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya… (QS. An-Nisaa’ [4] : 46)

Bayangkan Tuhan mengutus seorang nabi dan ia mengajak umatnya menuju jalan kebenaran, namun dengan berjalannya masa dan dikarenakan berbagai macam sebab, ajaran nabi tersebut terselewengkan dan yang seharusnya menjadi petunjuk umat kini menjadi penyebab kesesatan mereka. Dalam keadaan seperti inilah hikmah Ilahi menuntut diutusnya seorang nabi baru untuk meluruskan apa-apa yang telah terselewengkan. Saat ini pun tidak ada Injil yang dapat ditemukan seutuhnya sebagaimana yang telah diturunkan kepada nabi Isa AS. Apa yang ada sekarang, adalah tulisan orang-orang yang dikenal sebagai murid-murid nabi Isa AS.; dan meskipun begitu, bukti bahwa Injil ini memang benar-benar tulisan mereka lemah sekali. Kandungan Injil dan Taurat yang ada saat ini justru membuktikan bahwa kitab-kitab tersebut bukan kitab yang asli sama seperti semulanya; membuktikan bahwa Injil dan Taurat yang sebenarnya telah sirna.[2] Dalam kitab-kitab itu juga banyak sekali masalah-masalah yang bertentangan dengan akal dan juga syariat agama-agama langit lainnya. Sebagai contoh, ada kesyirikan yang diajarkan dalam kitab-kitab tersebut, dan juga ada penyelewengan hukum-hukum syar’i yang telah disepakati oleh syariat-syariat yang lain. Atas dasar itu Tuhan selayaknya mengutus seorang nabi kepada mereka dan menurunkan kitab untuknya, meskipun pada akhirnya kitab tersebut diselewengkan juga. Ataupun meski tidak diturunkan kitab kepada nabi baru tersebut, paling tidak ia meluruskan penyelewengan-penyelewengan yang menyesatkan itu.

4. Menjelaskan Pesan-Pesan yang Tersembunyi


Sebagian ayat-ayat Al-Quran menjadi saksi bahwa banyak pemuka Ahi Kitab yang sengaja menyembunyikan pesan-pesan penting dalam ajaran mereka demi kepentingan duniawi. Hal ini melazimkan Tuhan mengutus seorang nabi untuk menjelaskan pesan-pesan yang mereka sembunyikan tersebut. Mengenai diutusnya Rasulullah SAW. Allah SWT. berfirman:

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. (QS. Al-Maa’idah [5] : 15)

Dari ayat diatas dapat difahami bahwa di antara para Ahli Kitab ada rahib-rahib yang mengerti sesuatu namun tidak menjelaskannya kepada siapapun. Ada sebagian ayat yang lain yang menunjukkan bahwa mereka sering menulis sesuatu dari diri mereka sendiri namun mereka mengaku tulisan tersebut dari Tuhan:

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”. (QS. Al-Baqarah [2] : 79)

Kebanyakan rahib Ahli Kitab berbuat seperti ini. Al-Quran berkata bahwa Rasulullah SAW. diutus untuk menerangkan hakikat-hakikat yang telah mereka sembunyikan selama itu.

5. Menyelesaikan Ikhtilaf-Ikhtilaf Keagamaan


Berdasarkan yang termaktub dalam Al-Quran, sejak awal penciptaan manusia hingga bertahun-tahun lamanya (kira-kira satu abad lamanya) anak-anak Adam hidup bersatu; dan meski terjadi ikhtilaf di antara mereka, ikhtilaf itu bukan seputar agama Tauhid. Namun jauh selepas masa-masa itu, bermunculan aliran-aliran yang berbau kesesatan dan kesyirikan serta banyak sekali ikhtilaf keagamaan; kemudian Tuhan mengutus para nabi untuk menyelesaikan ikhtilaf-ikhtilaf tersebut:

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Al-Baqarah [2] : 213)

Dengan membaca ayat suci di atas, setelah nabi Adam AS., Tuhan mengutus para nabi kepada hamba-hamba-Nya untuk menyelesaikan ikhtilaf di antara mereka. Berdasarkan ayat ini, dapat diasumsikan bahwa nabi Adam AS. tidak memiliki kitab langit dan beliau hanya berdakwah secara lisan kepada umatnya (anak-anaknya—pent.); dan juga tidak ada sebuah kitab langit yang tersusun rapi di tengah-tengah umat manusia pada waktu itu. Ketika ikhtilaf-ikhtilaf itu bermunculan, hikmah Ilahi menuntut adanya kitab suci yang dapat menghukumi dengan benar untuk mereka.

Dalam ayat di atas, disebutkan: “Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab”; menjadi bukti bahwa di antara mereka ada orang-orang yang secara sengaja menyelewengkan dan melakukan perubahan dalam kitab suci. Selain ikhtilaf-ikhtilaf yang sudah ada di tengah-tengah umat manusia masa itu, mereka dengan sengaja menciptakan ikhtilaf-ikhtilaf lainnya.

“karena dengki antara mereka sendiri” menunjukkan bahwa mereka menciptakan ikhtilaf-ikhtilaf karena kepentingan duniawi dan kezaliman diri mereka. Lalu Allah SWT. berfirman: “Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya.

Tuhan memberikan petunjuk ini melalui para nabi, para imam, dan orang-orang alim di antara hamba-hamba-Nya yang beragama benar: “Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

6. Mengingatkan Kembali


Umat manusia meskipun dapat memahami berbagai perkara atau memiliki gambaran sekilas mengenai sebagian permasalahan, namun mereka tetap membutuhkan “seseorang” yang dapat memberikan peringatan kepada mereka sehingga pengetahuan mereka yang tak sempurna itu tersempurnakan; dan dengan bahasa Al-Quran, mengeluarkan mereka dari kelalaian dan kembali kepada kesadaran dan dzikir. Ini juga salah satu tujuan diutusnya para nabi. Al-Quran sering kali menyebut dirinya dan juga kitab-kitab langit lainnya dengan sebutan dzikr, dzikra, tadzkirah, mudzakkir, dsb; yang semua itu menjadi bukti apa yang dimaksud di sini. Dzikir adalah mengingat. Manusia terkadang lupa atau lalai akan hal yang pernah ia ketahui; ibaratnya ia menjadi setengah sadar. Padahal, pengetahuan akan bermanfaat dalam “memilih” hanya ketika pengetahuan itu kita sadari. Mungkin saja dalam satu komunitas masyarakat tertentu, entah apa saja faktornya, kelalaian ini benar-benar meluas sehingga masalah tersebut benar-benar ditinggalkan dan mereka tidak menemukan satu jalanpun untuk keluar dari keadaan ini. Dalam keadaan seperti inilah para nabi diutus demi menyelamatkan mereka dari kelalaian. Imam Ali AS. pernah berkata:

Tuhan mengutus para nabi untuk menuntut janji fitrah mereka dan mengingatkan nikmat-nikmat yang telah mereka lupakan.[3]

Pengenalan dan Penyembahan Tuhan adalah perkara fitri, tapi manusia lalai akannya. Akal manusia dapat memahami banyak hal; namun akal ini juga seringkali terpendam dalam hawa nafsu dan syahwat. Tugas para nabi adalah menggali dan mengeluarkan akal dari kelalaian-kelalaian itu.[4]

Jadi, salah satu tugas para nabi adalah mengeluarkan manusia dari lingkaran kelalaian dan mengingatkan mereka kembali akan hal-hal yang secara fitri dan dengan akal mereka sendiri mereka telah mengenalnya. Hal terpenting dari hal-hal itu adalah Tauhid; yang mana Al-Quran selalu mengingatkan itu dan selalu mengajak manusia kepadanya. Oleh karenanya, dapat kita ambil kesimpulan juga bahwa para nabi bertujuan mengajak umat manusia kepada Tauhid pula.

Dalam Al-Quran disebutkan:

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS. An-Nahl [16] : 36)

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiyaa’ [21] : 25)

Dari ayat di atas dapat kita pahami dengan jelas bahwa salah satu tugas penting para nabi adalah mengajak umat manusia untuk menyembah Allah SWT. Al-Qur’an sering menceritakan kisah para nabi dan menyebut Tauhid dalam ilahiyah dan ibadiyah sebagai tujuan utama dakwah mereka: “Dan tidak adal Tuhan selain Dia bagi kalian.”

Dengan demikian, meskipun Tauhid adalah perkara fitri dan difahami akal manusia, sering kali terlupakan dan terabaikan karena faktor-faktor lain; dan hikmah Ilahi menuntut diutusnya para nabi untuk mengingatkan umat manusia akan perkara itu.

7. Ancaman dan Kabar Gembira


Terkadang manusia mengetahui sesuatu dan bahkan sadar akan itu, namun ia tidak memiliki gairah untuk beramal sesuai pengetahuannya. Pada kondisi ini ia memerlukan motivasi yang dapat menggerakkannya. Para nabi adalah pemberi ancaman dan juga pembawa berita gembira; yang mana ancaman dan berita gembira itu akan menjadi motivasi alam perbuatan umatnya. Para nabi menciptakan motivasi dan membangunkan kembali kecenderungan-kecenderungan umatnya untuk beramal saleh; karena setiap manusia takut akan adzab dan siksaan, dan kemungkinan kecil adanya siksaan seharusnya memberikan dampak dalam jiwanya. Para nabi menggambarkan dengan jelas pedihnya adzab neraka dan menyebutkan satu per satu nikmat-nikmat surga; dengan ancaman dan kabar gembira tersebut mereka mendorong umatnya untuk beramal baik dan meninggalkan keburukan.

Banyak sekali ayat-ayat Qur’an yang menyebut para nabi sebagai nadzir (pemberi peringatan), misalnya:

Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (QS. Faathir [35] : 24)

8. Memerangi Kezaliman dan Kemunkaran


Sebagaimana yang telah dijelaskan, misi utama para nabi adalah Tauhid dan mengajak umat manusia untuk melakukan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Namun di sela-sela itu, para nabi selalu memerangi segala macam kemunkaran dan kezaliman yang marak dilakukan di zaman mereka. Misalnya, nabi Syu’aib AS. memerangi para penjual mahal:

Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang- orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. (QS. Asy-Syu’araa’ [26] : 181–182)

Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, (QS. Al-A’raaf [7] : 85)

Nabi Luth AS. juga memerangi kemunkaran (homoseksual) yang marak di zamannya:

Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Asy-Syu’araa’ [26] : 165–166)

Masih banyak juga ayat-ayat lainnya yang mencerminkan perjuangan para nabi dalam memerangi kezaliman dan kemunkaran.






[1] Yakni pengarahan manusia kepada jalan yang benar melalui diturunkannya syariat agama.




[2] Dalam Injil yang beredar saat ini, Tuhan digambarkan seperti seorang manusia yang tidak mengetahui banyak hal, terkadang menyesali perbuatannya sendiri, bergulat dengan hambanya sendiri dan terkalahkan, menuduh para nabi telah berzina dan bahkan berzina dengan muhrimnya. Di Injil-Injil inilah hal-hal yang tidak masuk akal dan tidak etis dapat kita baca.




[3] Ali ibn Abi Thalib: Nahjul Balaghah, khutbah pertama.


[4] Ibid.

 

Dari buku Jalan Kebenaran dan Penuntunnya

http://drxt.org/0b26968e
http://drxt.org/c2420fac

Sunday, December 2, 2012

Al Qur'an diturunkan secara bertahap

Al Qur'an adalah kumpulan ayat-ayat dan surat-surat yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw sebelum dan sesudah hijrahnya beliau.

Seiring dengan terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu, diturunkan sebuah ayat, sekumpulan ayat, atau satu surah kepada nabi. Peristiwa-peristiwa itulah yang disebut dengan Asbabun Nuzul (sebab-sebab diturunkannya ayat Al Qur'an) yang mana sangat penting bagi kita untuk memahami maksud ayat yang sebenarnya. Hal ini yang membuat Al Qur'an berbeda dengan kitab-kitab langit lainnya yang diturunkan sekaligus.

Beberapa di antara hikmah diturunkannya Al Qur'an sedemikian rupa adalah agar umat Islam selalu merasa mendapatkan perhatian khusus dari Tuhan, sehingga ayat demi ayat Al Qur'an dapat tertanam dengan kuat di hati umat-Nya.

Diringkas dari: Hawzah.net

http://drxt.org/d234a23a
http://drxt.org/c87a6970