Monday, December 3, 2012

Tujuan diutusnya para nabi

Tuhan maha suci dari melakukan perbuatan yang sia-sia tanpa tujuan. Pengutusan para nabi adalah salah satu bentuk rahmat Allah yang memiliki tujuan-tujuan penting. Di antara tujuan-tujuan tersebut adalah:

1. Hidayah Tasyri’i[1] Umat Manusia


Masalah kenabian telah terpapar sejak awal penciptaan dan memang pada dasarnya kehidupan umat manusia di dunia ini terbangun di atas hidayah tasyri’i. Ayat-ayat Al-Quran menggambarkan bahwa seakan-akan sejak diturunkannya nabi Adam AS. ke dunia, diturunkan wahyu kepadanya agar mengikuti setiap petunjuk yang akan diturunkan nanti. Jika engkau menerima petunjuk itu dan mengamalkannya, engkau pasti akan mencapai kebahagiaanmu, dan jika kamu menentangnya, kamu bakal celaka:

Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah [2] : 38-39)

Atas dasar itu, sejak awal nabi Adam AS. tinggal di muka bumi perkaranya sangatlah jelas, bahwa di hadapannya akan terdapat dua jalan dan Tuhan akan membimbingnya. Ayat berikutnya menjadikan semua keturunan nabi Adam AS. sebagai lawan bicaranya; Ia berfirman:

Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-A’raaf [7] : 35-36)

2. Menyempurnakan Hujjah


Salah satu hasil dari hidayah tasyri’i, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, adalah penyempurnaan hujjah. Penyempurnaan hujjah adalah tujuan kedua diutusnya para nabi. Dalam Al-Quran disebutkan dengan jelas:

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisaa’ [4] : 165)

Di ayat lainnya, dengan menjadikan para Ahli Kitab sebagai lawan bicaranya, Allah SWT. berfirman:

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Maa’idah [5] : 19)

Yang jelas Ahli Kitab menganggap diri mereka sebagai pengikut seorang nabi, hanya saja mereka menanti kedatangan nabi selain nabi Muhammad SAW.

Bagaimanapun juga, ayat di atas menjelaskan bahwa para nabi diutus supaya jangan sampai para pengingkar bisa mencari-cari alasan seperti “karena seorang nabi tidak diutus kepada kami, dan karena ajaran nabi-nabi terdahulu telah terselewengkan, sesatlah kami” atau “karena sebelumnya telah dijanjikan tentang kedatangan seorang nabi namun ia tidak datang, oleh karenanya kami menjadi ragu dan berdua-hati.”

Allah SWT. berfirman:

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?” (QS. Thaahaa [20] : 134)

Ayat tersebut menerangkan bahwa jika seandainya Allah SWT. menurunkan azab siksaan kepada umat manusia sebelum diturunkan seorang nabi untuk mengingatkan mereka, bisa jadi mereka berdalih bahwa mereka tidak tahu mana jalan yang benar dan Tuhan sendiri tidak menurunkan seorang pembimbing kepada mereka agar menunjukkan jalan yang benar serta mengeluarkan mereka dari lingkaran kelalaian. Jadi, salah satu tujuan pengutusan para nabi, adalah menutup kemungkinan bagi manusia untuk mencari-cari alasan.

3. Meluruskan Pelencengan


Ada beberapa ayat yang dapat kita petik suatu pesan darinya, namun mungkin saja itu tidak mutlak. Misalnya, Al-Qur’an mengisyarahkan penyelewengan-penyelewengan (perubahan dalam kitab suci) yang dilakukan oleh biarawan Ahli Kitab:

Mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya… (QS. An-Nisaa’ [4] : 46)

Bayangkan Tuhan mengutus seorang nabi dan ia mengajak umatnya menuju jalan kebenaran, namun dengan berjalannya masa dan dikarenakan berbagai macam sebab, ajaran nabi tersebut terselewengkan dan yang seharusnya menjadi petunjuk umat kini menjadi penyebab kesesatan mereka. Dalam keadaan seperti inilah hikmah Ilahi menuntut diutusnya seorang nabi baru untuk meluruskan apa-apa yang telah terselewengkan. Saat ini pun tidak ada Injil yang dapat ditemukan seutuhnya sebagaimana yang telah diturunkan kepada nabi Isa AS. Apa yang ada sekarang, adalah tulisan orang-orang yang dikenal sebagai murid-murid nabi Isa AS.; dan meskipun begitu, bukti bahwa Injil ini memang benar-benar tulisan mereka lemah sekali. Kandungan Injil dan Taurat yang ada saat ini justru membuktikan bahwa kitab-kitab tersebut bukan kitab yang asli sama seperti semulanya; membuktikan bahwa Injil dan Taurat yang sebenarnya telah sirna.[2] Dalam kitab-kitab itu juga banyak sekali masalah-masalah yang bertentangan dengan akal dan juga syariat agama-agama langit lainnya. Sebagai contoh, ada kesyirikan yang diajarkan dalam kitab-kitab tersebut, dan juga ada penyelewengan hukum-hukum syar’i yang telah disepakati oleh syariat-syariat yang lain. Atas dasar itu Tuhan selayaknya mengutus seorang nabi kepada mereka dan menurunkan kitab untuknya, meskipun pada akhirnya kitab tersebut diselewengkan juga. Ataupun meski tidak diturunkan kitab kepada nabi baru tersebut, paling tidak ia meluruskan penyelewengan-penyelewengan yang menyesatkan itu.

4. Menjelaskan Pesan-Pesan yang Tersembunyi


Sebagian ayat-ayat Al-Quran menjadi saksi bahwa banyak pemuka Ahi Kitab yang sengaja menyembunyikan pesan-pesan penting dalam ajaran mereka demi kepentingan duniawi. Hal ini melazimkan Tuhan mengutus seorang nabi untuk menjelaskan pesan-pesan yang mereka sembunyikan tersebut. Mengenai diutusnya Rasulullah SAW. Allah SWT. berfirman:

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. (QS. Al-Maa’idah [5] : 15)

Dari ayat diatas dapat difahami bahwa di antara para Ahli Kitab ada rahib-rahib yang mengerti sesuatu namun tidak menjelaskannya kepada siapapun. Ada sebagian ayat yang lain yang menunjukkan bahwa mereka sering menulis sesuatu dari diri mereka sendiri namun mereka mengaku tulisan tersebut dari Tuhan:

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”. (QS. Al-Baqarah [2] : 79)

Kebanyakan rahib Ahli Kitab berbuat seperti ini. Al-Quran berkata bahwa Rasulullah SAW. diutus untuk menerangkan hakikat-hakikat yang telah mereka sembunyikan selama itu.

5. Menyelesaikan Ikhtilaf-Ikhtilaf Keagamaan


Berdasarkan yang termaktub dalam Al-Quran, sejak awal penciptaan manusia hingga bertahun-tahun lamanya (kira-kira satu abad lamanya) anak-anak Adam hidup bersatu; dan meski terjadi ikhtilaf di antara mereka, ikhtilaf itu bukan seputar agama Tauhid. Namun jauh selepas masa-masa itu, bermunculan aliran-aliran yang berbau kesesatan dan kesyirikan serta banyak sekali ikhtilaf keagamaan; kemudian Tuhan mengutus para nabi untuk menyelesaikan ikhtilaf-ikhtilaf tersebut:

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Al-Baqarah [2] : 213)

Dengan membaca ayat suci di atas, setelah nabi Adam AS., Tuhan mengutus para nabi kepada hamba-hamba-Nya untuk menyelesaikan ikhtilaf di antara mereka. Berdasarkan ayat ini, dapat diasumsikan bahwa nabi Adam AS. tidak memiliki kitab langit dan beliau hanya berdakwah secara lisan kepada umatnya (anak-anaknya—pent.); dan juga tidak ada sebuah kitab langit yang tersusun rapi di tengah-tengah umat manusia pada waktu itu. Ketika ikhtilaf-ikhtilaf itu bermunculan, hikmah Ilahi menuntut adanya kitab suci yang dapat menghukumi dengan benar untuk mereka.

Dalam ayat di atas, disebutkan: “Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab”; menjadi bukti bahwa di antara mereka ada orang-orang yang secara sengaja menyelewengkan dan melakukan perubahan dalam kitab suci. Selain ikhtilaf-ikhtilaf yang sudah ada di tengah-tengah umat manusia masa itu, mereka dengan sengaja menciptakan ikhtilaf-ikhtilaf lainnya.

“karena dengki antara mereka sendiri” menunjukkan bahwa mereka menciptakan ikhtilaf-ikhtilaf karena kepentingan duniawi dan kezaliman diri mereka. Lalu Allah SWT. berfirman: “Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya.

Tuhan memberikan petunjuk ini melalui para nabi, para imam, dan orang-orang alim di antara hamba-hamba-Nya yang beragama benar: “Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

6. Mengingatkan Kembali


Umat manusia meskipun dapat memahami berbagai perkara atau memiliki gambaran sekilas mengenai sebagian permasalahan, namun mereka tetap membutuhkan “seseorang” yang dapat memberikan peringatan kepada mereka sehingga pengetahuan mereka yang tak sempurna itu tersempurnakan; dan dengan bahasa Al-Quran, mengeluarkan mereka dari kelalaian dan kembali kepada kesadaran dan dzikir. Ini juga salah satu tujuan diutusnya para nabi. Al-Quran sering kali menyebut dirinya dan juga kitab-kitab langit lainnya dengan sebutan dzikr, dzikra, tadzkirah, mudzakkir, dsb; yang semua itu menjadi bukti apa yang dimaksud di sini. Dzikir adalah mengingat. Manusia terkadang lupa atau lalai akan hal yang pernah ia ketahui; ibaratnya ia menjadi setengah sadar. Padahal, pengetahuan akan bermanfaat dalam “memilih” hanya ketika pengetahuan itu kita sadari. Mungkin saja dalam satu komunitas masyarakat tertentu, entah apa saja faktornya, kelalaian ini benar-benar meluas sehingga masalah tersebut benar-benar ditinggalkan dan mereka tidak menemukan satu jalanpun untuk keluar dari keadaan ini. Dalam keadaan seperti inilah para nabi diutus demi menyelamatkan mereka dari kelalaian. Imam Ali AS. pernah berkata:

Tuhan mengutus para nabi untuk menuntut janji fitrah mereka dan mengingatkan nikmat-nikmat yang telah mereka lupakan.[3]

Pengenalan dan Penyembahan Tuhan adalah perkara fitri, tapi manusia lalai akannya. Akal manusia dapat memahami banyak hal; namun akal ini juga seringkali terpendam dalam hawa nafsu dan syahwat. Tugas para nabi adalah menggali dan mengeluarkan akal dari kelalaian-kelalaian itu.[4]

Jadi, salah satu tugas para nabi adalah mengeluarkan manusia dari lingkaran kelalaian dan mengingatkan mereka kembali akan hal-hal yang secara fitri dan dengan akal mereka sendiri mereka telah mengenalnya. Hal terpenting dari hal-hal itu adalah Tauhid; yang mana Al-Quran selalu mengingatkan itu dan selalu mengajak manusia kepadanya. Oleh karenanya, dapat kita ambil kesimpulan juga bahwa para nabi bertujuan mengajak umat manusia kepada Tauhid pula.

Dalam Al-Quran disebutkan:

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS. An-Nahl [16] : 36)

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiyaa’ [21] : 25)

Dari ayat di atas dapat kita pahami dengan jelas bahwa salah satu tugas penting para nabi adalah mengajak umat manusia untuk menyembah Allah SWT. Al-Qur’an sering menceritakan kisah para nabi dan menyebut Tauhid dalam ilahiyah dan ibadiyah sebagai tujuan utama dakwah mereka: “Dan tidak adal Tuhan selain Dia bagi kalian.”

Dengan demikian, meskipun Tauhid adalah perkara fitri dan difahami akal manusia, sering kali terlupakan dan terabaikan karena faktor-faktor lain; dan hikmah Ilahi menuntut diutusnya para nabi untuk mengingatkan umat manusia akan perkara itu.

7. Ancaman dan Kabar Gembira


Terkadang manusia mengetahui sesuatu dan bahkan sadar akan itu, namun ia tidak memiliki gairah untuk beramal sesuai pengetahuannya. Pada kondisi ini ia memerlukan motivasi yang dapat menggerakkannya. Para nabi adalah pemberi ancaman dan juga pembawa berita gembira; yang mana ancaman dan berita gembira itu akan menjadi motivasi alam perbuatan umatnya. Para nabi menciptakan motivasi dan membangunkan kembali kecenderungan-kecenderungan umatnya untuk beramal saleh; karena setiap manusia takut akan adzab dan siksaan, dan kemungkinan kecil adanya siksaan seharusnya memberikan dampak dalam jiwanya. Para nabi menggambarkan dengan jelas pedihnya adzab neraka dan menyebutkan satu per satu nikmat-nikmat surga; dengan ancaman dan kabar gembira tersebut mereka mendorong umatnya untuk beramal baik dan meninggalkan keburukan.

Banyak sekali ayat-ayat Qur’an yang menyebut para nabi sebagai nadzir (pemberi peringatan), misalnya:

Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (QS. Faathir [35] : 24)

8. Memerangi Kezaliman dan Kemunkaran


Sebagaimana yang telah dijelaskan, misi utama para nabi adalah Tauhid dan mengajak umat manusia untuk melakukan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Namun di sela-sela itu, para nabi selalu memerangi segala macam kemunkaran dan kezaliman yang marak dilakukan di zaman mereka. Misalnya, nabi Syu’aib AS. memerangi para penjual mahal:

Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang- orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. (QS. Asy-Syu’araa’ [26] : 181–182)

Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, (QS. Al-A’raaf [7] : 85)

Nabi Luth AS. juga memerangi kemunkaran (homoseksual) yang marak di zamannya:

Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Asy-Syu’araa’ [26] : 165–166)

Masih banyak juga ayat-ayat lainnya yang mencerminkan perjuangan para nabi dalam memerangi kezaliman dan kemunkaran.






[1] Yakni pengarahan manusia kepada jalan yang benar melalui diturunkannya syariat agama.




[2] Dalam Injil yang beredar saat ini, Tuhan digambarkan seperti seorang manusia yang tidak mengetahui banyak hal, terkadang menyesali perbuatannya sendiri, bergulat dengan hambanya sendiri dan terkalahkan, menuduh para nabi telah berzina dan bahkan berzina dengan muhrimnya. Di Injil-Injil inilah hal-hal yang tidak masuk akal dan tidak etis dapat kita baca.




[3] Ali ibn Abi Thalib: Nahjul Balaghah, khutbah pertama.


[4] Ibid.

 

Dari buku Jalan Kebenaran dan Penuntunnya

http://drxt.org/0b26968e
http://drxt.org/c2420fac

Sunday, December 2, 2012

Al Qur'an diturunkan secara bertahap

Al Qur'an adalah kumpulan ayat-ayat dan surat-surat yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw sebelum dan sesudah hijrahnya beliau.

Seiring dengan terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu, diturunkan sebuah ayat, sekumpulan ayat, atau satu surah kepada nabi. Peristiwa-peristiwa itulah yang disebut dengan Asbabun Nuzul (sebab-sebab diturunkannya ayat Al Qur'an) yang mana sangat penting bagi kita untuk memahami maksud ayat yang sebenarnya. Hal ini yang membuat Al Qur'an berbeda dengan kitab-kitab langit lainnya yang diturunkan sekaligus.

Beberapa di antara hikmah diturunkannya Al Qur'an sedemikian rupa adalah agar umat Islam selalu merasa mendapatkan perhatian khusus dari Tuhan, sehingga ayat demi ayat Al Qur'an dapat tertanam dengan kuat di hati umat-Nya.

Diringkas dari: Hawzah.net

http://drxt.org/d234a23a
http://drxt.org/c87a6970

Sunday, November 11, 2012

2. Al Baqarah 79










79. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini (S. 2: 79) turun tentang ahli kitab yang memalsukan Taurat.
(Diriwayatkan oleh an-Nasa'i yang bersumber dari Ibnu Abbas.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (S. 2: 79) tentang padri-padri bangsa Yahudi yang mendapatkan sifat-sifat Nabi SAW tertulis dalam kitab Taurat yang berbunyi: Matanya seperti yang selalu memakai cela, tingginya sedang, rambutnya kriting, mukanya cantik." Akan tetapi mereka hapus (kalimat tersebut dari Taurat) karena dengki dan benci serta menggantinya dengan kalimat: "Badannya tinggi, matanya biru, rambutnya lurus."
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab (bukan Al-Quran) dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit (bukan banyak) dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.

Jadi bukan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Quran dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang banyak dengan perbuatan itu.

Jadi tidak perlu takut bagi orang-orang yang menulis Al-Quran, karena hanya berlaku untuk Al-Kitab dan untuk keuntungan yang sedikit, tidak berlaku jika memperoleh keuntungan yang banyak.

Tuesday, October 9, 2012

Islam Satu-satunya Agama di Dunia

Kesalahan terbesar umat manusia adalah ketika mengatakan bahwa agama di dunia ini ada banyak. Kenyataannya adalah cuma ada satu agama di dunia ini, yaitu agama Islam. Mungkin benar jika ada agama setelah muncul agama Islam, tetapi itu adalah agama yang salah.

Dalam sejarah manusia, dari jaman Adam diciptakan, tidak pernah ada yang namanya agama. Adam tidak membawa atau mengajarkan agama ke dunia. Abraham pun juga tidak membawa agama. Musa dan Daud pun juga tidak mengajarkan tentang agama. Yesus lebih tidak pernah mengajarkan tentang agama ataupun politik, bahkan tidak pernah menulis kitab.

Agama baru diciptakan pertama kali oleh Allah melalui Muhammad. Jadi pertama dan satu-satunya agama adalah Islam.

Lalu bagaimana dengan agama Kristen, Buddha dan lain-lain?

Kristen bukanlah sebuah agama. Kristen adalah sebuah ejekan bagi para pengikut kristus pada saat itu. Sama seperti alay adalah ejekan bagi para orang yang lebay.

Buddha juga bukan agama, tetapi sebutan bagi Siddhartha Gautama yang telah mencapai kesempurnaan. Sedangkan orang yang menganut ajaran Buddha disebut pengikut Buddha (bukan agama Buddha).

Jadi cuma ada satu agama yang benar di dunia, yaitu Islam, karena memang benar Islam adalah sebuah agama. Sedangkan "agama" yang lain adalah salah (karena bukan agama).

 

Bingung

Nabi Ibrahim (Abraham) adalah bapak para Nabi (Abul-Anbiya'). Beliau juga khalilullah (kekasih Allah) yang diberkati sesuai dengan ayat :

Berfirmanlah Tuhan kepada Abraham: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Lalu pergilah Abraham seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abraham berumur tujuh puluh ketika ia berangkat dari Haran. (Kej.12:1-4)

Siapakah yang dimaksud oleh Allah keturunan Nabi Ibrahim yang selalu memberkati namanya? Itulah isyarat akan kedatangan Nabi Muhammad SAW karena hanya beliau dan umatnya yang selalu memberkatinya dengan membaca shalawat.
Apa hubungannya?

Allah juga telah menginformasikan kepada Nabi Musa a.s. tentang kedatangan Nabi Muhammad SAW sesudahnya, Firman Allah :

Seorang Nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan Nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggung jawaban (Ulangan 18:18-19).
seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.

Masuk akal kalau Arab dikatakan saudara Israel. Atau dari antara 12 suku Israel.

Dan Nabi yang seperti Musa dikenal berhadapan muka dengan Tuhan tidak ada lagi yang dibangkitkan dari bangsa Israel melainkan dari bangsa Arab (Ulangan 34:10)
Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel,

Lalu bagaimana dengan nabi setelah Musa sebelum Muhammad?

Berdasarkan dalil di atas, ini merupakan berita akan kelahiran Nabi Muhammad SAW karena Allah sudah mengatakan kepada Musa bahwa kelak Dia akan membangkitkan seorang nabi sesudah Musa yang ciri-cirinya sebagai berikut:

1. Nabi yang akan datang itu berasal dari kalangan saudara Bani Israel. Siapakah yang dimaksud saudara Bani Israel itu? Tentunya bukan orang Israel melainkan Bani Ismail karena Ismail adalah saudara Ishak, leluhur Israel.

2. Nabi itu sama ciri-cirinya seperti Musa. Diantara beberapa persamaan ciri-cirinya adalah: Musa lahir normal punya ayah dan ibu sementara Nabi Muhammad SAW juga sama, pernah menggembala kambing diwaktu remaja, pernah perang melawan rezim penguasa, pernah hijrah dan pernah berdialog dengan Tuhan.

3. Allah menaruh firman didalam mulutnya maksudnya adalah Nabi yang akan diutus itu selalu mengucapkan firman Tuhan dengan menyebut nama Allah yaitu Bismillahir rahmanir rahim dan dia tidak pernah berbicara dengan hawa nafsunya melainkan berdasarkan wahyu yang telah diwahyukan.(QS.53:3-4)

4. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.

5. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Nabi Yesaya menggambarkan bahwa Nabi yang akan datang itu adalah buta huruf

Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan:" Baiklah baca ini" maka ia akan menjawab:"Aku tidak dapat membaca." (Yesaya 29:12)
[11] Maka bagimu penglihatan dari semuanya itu seperti isi sebuah kitab yang termeterai, apabila itu diberikan kepada orang yang tahu membaca dengan mengatakan: "Baiklah baca ini," maka ia akan menjawab: "Aku tidak dapat, sebab kitab itu termeterai";
[12] dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: "Baiklah baca ini," maka ia akan menjawab: "Aku tidak dapat membaca."

Bisa atau tidak bisa membaca, keduanya disebutkan.

Sinyalemen Nabi Yesaya tersebut terpenuhi oleh Nabi Muhammad SAW karena beliau ketika di Gua Hira didatangi Jibril dan berkata "iqro'" (bacalah), Muhammad menjawab"aku tidak dapat membaca".

Termasuk juga mengenai hijrah Nabi Muhammad SAW.dinubuatkan oleh Nabi Yesaya dalam kitabnya:

Ucapan ilahi terhadap Arabia, Di belukar di Arabia kamu akan bermalam, hai kafilah-kafilah orang Dedan! Hai penduduk tanah Temah, keluarlah! Bawalah air kepada orang yang haus. Pergilah, sambutlah orang pelarian dengan roti! Sebab mereka melarikan diri terhadap pedang yang terhunus, terhadap busur yang dilentur, dan terhadap kehebatan peperangan. Sebab beginilah firman Tuhan kepadaku: "Dalam setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan kedar akan habis. (Yesaya :21:13-16).

Sumber

Monday, October 8, 2012

Allah yang Setia

Allah adalah sosok yang setia. Terbukti dari jaman Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Daud Allah tetap setia pada bangsa Israel. Sepanjang sejarah, Allah selalu mengistimewakan suku Israel. Allah selalu memilih seorang pemimpin Israel. Membawa Israel keluar dari masalah. Membuat mukjizat untuk Israel.

Tetapi ternyata Allah tidak begitu setia, pada akhirnya Allah pun berpindah kelain bangsa, yaitu suku Arab. Apakah yang menyebabkan Allah tidak setia?

Jika ternyata Allah yang setia tidak lagi setia, apakah Allah juga akan tidak setia pada janjinya? Janji keselamatan, Surga dan kehidupan yang kekal?

Jika ternyata benar, maka sia-sia semua perbuatan manusia selama ini.

Apakah Allah juga akan tidak setia pada janjinya? Janji keselamatan, Surga dan kehidupan yang kekal?

Sunday, October 7, 2012

Injil Bukan Kitab Ciptaan Allah

Apakah Injil adalah kitab dari Allah?
Berdasarkan Alquran, Alkitab (Injil) adalah kitab yang diberikan Allah kepada nabi Isa.
Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi; dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka” . (Maryam: 30-32)

Faktanya, Alkitab (Injil) bukanlah kitab yang diturunkan Allah.
Alkitab (Injil) adalah hasil tulisan tangan manusia, jadi Alkitab (Injil) bukan hasil tulisan Allah yang turun dari langit.

Ada yang berkata bahwa Injil yang sekarang ada adalah palsu. Lalu dimana Injil yang asli? Kenapa Allah tidak memelihara Injil yang asli seperti memelihara Alquran? Dimanakah juga kitab-kitab sebelumnya seperti Zabur dan Taurat yang asli? Apakah Allah melupakan kitab-kitabNya yang terdahulu?

Apakah Allah melupakan kitab-kitab terdahulu setelah mempunyai kitab terbaru?

Thursday, October 4, 2012

Manusia Lebih Berkuasa dari Tuhan

Siapakah manusia?
Apakah kuasa manusia lebih besar dari kuasa Tuhan?
Kenapa manusia berani membatasi dan mengatur Tuhan?

Tuhan adalah pencipta dan manusia adalah ciptaan. Apakah pantas seorang ciptaan membatasi atau melarang pencipta?
Tapi inilah yang terjadi saat ini, manusia membatasi pencipta.

Contoh kasus, saya adalah seorang programer sebuah game, maka saya ini adalah seorang pencipta.
Dalam game tersebut, ada beberapa karakter yang saya ciptakan, yaitu:

  • dewa

  • penyihir

  • pendekar

  • pemanah

  • naga

  • kuda

  • babi

  • kucing

  • pohon

  • dll


Para pemain dapat menggunakan 3 karakter yaitu penyihir, pendekar dan pemanah. Karakter dewa hanya bisa digunakan oleh game master atau creator (saya).

Jika suatu ketika saya sebagai pencipta game tersebut bermain sebagai karakter kucing, apakah layak seorang pemain lain (penyihir, pendekar dan pemanah - yang merupakan karakter ciptaan saya) melarang saya menggunakan karakter kucing?
Atau jika saya bermain sebagai pemanah, apakah pemain lain berhak melarang saya juga?

Dan ketika saya bermain sebagai dewa, apakah ketika karakter saya (dewa) mati dibunuh pemain lain, apakah itu membuat saya bukan menjadi seorang creator lagi?

 

Siapakah manusia? Sehingga mereka berkata tidak layak seorang Tuhan menjadi manusia, atau menjadi makhluk lainnya.
Siapakah manusia? Sehingga mereka berkata Tuhan tidak mungkin mati.
Siapakah manusia? Sehingga mereka berkata tidak mungkin Tuhan dilahirkan.

Siapakah yang lebih berkuasa? Tuhan atau manusia?

Wednesday, October 3, 2012

Muhammad adalah rasul (utusan) Allah

Tidak sedikit yang mengatakan bahwa Injil telah dipalsukan, tetapi tidak banyak juga yang mengatakan bahwa ada "Muhammad" dalam Injil. Lalu apa gunanya Injil dipalsukan jika masih tetap mencantumkan "Muhammad"?

Ini adalah kebenaran yang tertulis dalam Injil Yohanes tentang "Muhammad".
Yoh 14:26 tetapi Penghibur ("Muhammad"), yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku (Yesus), Dialah ("Muhammad") yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
Yoh 16:7 Namun benar yang Kukatakan kepadamu ini: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku (Yesus) pergi. Sebab jikalau Aku (Yesus) tidak pergi, Penghibur ("Muhammad") itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku (Yesus) pergi, Aku (Yesus) akan mengutus Dia ("Muhammad") kepadamu.

Tulisan yang menggunakan hurup awal Kapital dalam tata penulisan dimaksudkan sebagai "Tuhan/yang di-Tuhankan".

Jadi teringat tentang kalimat syahadat.
Syahadat sering disebut dengan Syahadatain karena terdiri dari 2 kalimat (Dalam bahasa arab Syahadatain berarti 2 kalimat Syahadat). Kedua kalimat syahadat itu adalah:

  • Kalimat pertama :


Syahadat1.gif

Asyhadu an-laa ilaaha illallaah
artinya : Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah


  • Kalimat kedua :


Syahadat2.gif

Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah
artinya: dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Dalam kalimat syahadat jelas dikatakan bahwa "Muhammad adalah rasul (utusan) Allah." dan pada Yoh 16:7 dikatakan "Aku (Yesus) akan mengutus Dia ("Muhammad") kepadamu." jadi dapat kalian simpulkan sendiri arti dari kedua kalimat tersebut.

Friday, January 20, 2012

Hello world!

Selamat datang dalam Kebenaran!

Hanya manusia yang mampu membaca dan berpikir yang akan mengerti semua hal yang ada disini.